Rabu, 16 Desember 2009

2000 pulau di Indonesia tengelam & tsunami menyapu kita jika kerusakan laut tidak diperbaiki.



Awal tahun 2007, menteri lingkungan hidup, Rahmat Witoelar membeberkan hasil riset peneliti PBB, tentang kemungkinan tenggelamnya 2000 pulau di Indonesia pada tahun 2030 akibat naiknya permukaan laut. Sebelum tahun 2007, peneliti dunia juga telah mempublikasikan tentang mengecilnya gunung es di Samudera Artik yang berperan penting dalam siklus iklim dunia. Gunung es itu meleleh sangat cepat karena perubahan iklim. Jutaan air dingin segar mengalir deras dari kutub utara, meninggikan permukaan air laut.

Banjir air es itu membuat arus air hangat dari Samudera Atlantik yang seharusnya menghangatkan udara musim dingin di Eropa dan sebagian Amerika terjebak di bawah laut, terseret ke kutub utara dan melelehkan gunung es Artik dari bawah. Laut menjadi semakin asam karena kemampuan laut menyerap dan melepaskan karbondioksida berkurang. Laut yang asam ini membunuh terumbu2 karang, produsen makanan bagi ekosistem laut yang merupakan sumber makanan manusia. Hancurkan terumbu karang juga memperlemah sistim pertahanan pantai jika ada ombak besar atau tsunami menyapu daratan.
Keindahan ekosistem bawah laut

Keindahan ekosistem bawah laut

Laut menyerap karbon 50 kali lebih banyak daripada atmosfer. 50 % oksigen yang dihirup manusia adalah hasil fotosintesis di laut. Ironisnya, manusia malah membuang emisi bahan bakar ke laut sehingga konsentrasi CO2 meningkat tajam. Laut yang rusak ekosistemnya, tak mampu lagi berperan mengendalikan iklim. Peneliti kelautan BPRKP, Novi Susetyo Adi, mengatakan ; kemampuan laut menyerap karbon bergantung kondisi ekosistem pesisirnya karena karbon ditenggelamkan ke dasar laut oleh bangkai serta kotoran fitoplankton dan biota laut lainnya, yang tergantung suhu, tingkat keasaman dan nutrisi yang dibawa air daratan ke pantai. Kualitas air dari daratan inilah yang kini berkurang, bahkan sampai meracuni ekosistem laut.

Sebagian besar kalangan hanya memperhatikan dampak perubahan iklim berupa naiknya permukaan air laut, yang kini rajin membanjiri wilayah pesisir. Kejadiannya seperti lingkaran setan. Laut yang asam dan kurang bisa meredam panas telah mengacaukan siklus pertukaran air es dan air hangat di permukaan bumi, mengacaukan iklim global yang menopang kehidupan manusia di daratan.

Indonesia kemudian mencetuskan Konferensi Kelautan Dunia I ( World Ocean Conference ) di Manado, Sulawesi Utara, 11-15 Mei mendatang. PBB memasukkan WOC 2009 sebagai agenda resmi dan berharap kesuksesan penyelenggaraannya. Manado mulai berbenah diri. Jika WOC 2009 sukses menyelamatkan 53 % gugusan terumbu karang dunia yang amat berharga, kita tak perlu terbirit menyelamatkan diri ketika laut menyapu daratan dan menenggelamkan kediaman manusia. ( Mita Yuniarti/ PR, 29/4/2009 )

HOTEL BINTANG 7 DI BAWAH LAUT


istanbul_underwater_hotel1

Seperti tidak mau kalah dengan Dubai yang sedang membangun Hotel di bawah laut, Istambul juga sedang memangun hotel di bawah laut yang rencananya baru selesai sekitar tahun 2010.

Hotel ini berlokasi di bekas pabrik rokok, sebuah bangunan bersejarah tahun 1930an dan akan terdiri dari 7 lantai yang semua lantainya berada di dasar laut serta semua kamar dipastikan mempunyai pemandangan bawah laut yang indah.

Hotel ini juga akan menjadi salah satu hotel yang berbintang 7 dan pastinya 100% anti air (waterproof).

Antara hotel bawah laut di Dubai dan Istambul mempunyai 2 kesamaan yaitu sama-sama di bawah laut dan harga menginapnya pasti mahal.

Jumat, 04 Desember 2009

Mistery Kehidupan Laut Yang Paling Dalam

Lautan merupakan habitat terbesar di bumi. Dibalik selubung kebiruannya, masih tersimpan banyak rahasia yang belum terungkap. Hingga kini sebagian besar kehidupan di laut dalam belum benar-benar diketahui.

Secara umum, wilayah perairan laut yang luas ini dikelompokkan dalam lima bagian. Samudra Pasifik, Samudra Atlantik, Samudra India, Laut Selatan, dan Laut Arktika. Karena itu tipelogi kehidupan laut berdasarkan pembagian areanya dikelompokkan dalam lima bagian ini.

Terlepas dari klasifikasi, menelusuri kehidupan di lautan memang tak kalah menarik dibanding kehidupan di daratan. Bahkan kehidupan di lautan lebih kompleks, lebih variatif, dan lebih tertutup. Dari wilayah pantai, lautan dangkal, selat, teluk, sampai lautan dalam, samudra luas, bahkan palung-palung laut.

Struktur lantai lautan juga bergunung-gunung, berlembah, dan berpalung. Semuanya punya sistem kehidupan sendiri-sendiri yang sangat variatif dan beragam. Tergantung tingkat kedalaman air, kemampuan sinar matahari menembus laut, suhu, iklim, dan arus air.

Zona Laut
Paul Bennet dalam The Natural World – Under The Ocean, memaparkan bahwa para ilmuwan telah membagi lautan menjadi lapisan atau zona yang jelas. Ada kawasan yang disebut perairan dangkal, zona twilight, lautan dalam.

Bagian laut yang terdekat dengan kehidupan daratan adalah perairan dangkal yaitu wilayah laut yang dekat dengan tepi pantai. Zona ini mendapat limpahan cahaya matahari yang berkecukupan. Kehidupan di zona ini sangat beragam dan tempat yang paling disukai ikan-ikan yang kita kenal.

Setelah perairan dangkal zona berikutnya adalah zona twilight. Yaitu kawasan perairan yang masih bisa ditembus matahari walau tak “semewah” perairan dangkal. Zona ini bisa dikatakan batas jangkauan matahari mampu menembus lapisan lautan. Karena itu kehidupan di sini mulai sedikit, namun masih bisa ditinggali jenis-jenis bunga karang. Ikan berukuran besar juga suka berada di antara zona twilight ini atau mengapung di permukaan laut dalam.

Zonasi lautan yang paling gelap dan dingin adalah laut dalam (termasuk palung laut). Masih sedikit sekali yang diketahui tentang kehidupan di zona ini.

Gelap Pekat
Lautan dalam adalah zonasi yang paling misterius dan sangat tidak ramah. Suasanananya seram, gelap, pekat. Kegelapannya hampir serupa dengan lubang gua terdalam di bumi.

Kegelapan abadi di laut dalam terjadi karena sinar matahri tak bisa menembusnya. Cahaya “kehidupan” itu hanya bisa mencapai kedalaman 1.000 meter. Ini berpengaruh pula pada suhunya yang sangat dingin dan tekanan air yang luar biasa besar.

Begitu pun, penelitian terakhir menunjukkan bahwa di zona ini pun masih juga dihuni mahluk hidup. Hewan-hewan laut dalam ini adalah mahluk istimewa yang punya adaptasi khusus dengan lingkungannya yang sangat ektrim dan keras.

Biasanya hewan-hewan laut dalam ini punya kemampuan mengeluarkan cahaya, warna-warni indah di kegelapan. Bentuk-bentuk hewan laut dalam ini juga sangat aneh dan tidak lazim seperti kehidupan di dua zonasi yang mendapat sinar mentari.

Beberapa spesies yang sudah dikenali dari lautan hitam yang dingin ini seperti ubur-ubur kaca, ikan pengail (angler fish), belut penelan, ikan tripod (tripod fish), ikan ekor tikus.

Sumber Reference :

http://www.harian-global.com

BLACK SMOKER DARI KUTUP UTARA


Di kawasan yang sangat dingin seperti Kutub Utara ternyata terdapat sumber air mendidih. Bahkan, pada salah satu kawasan yang sering disebut black smokers itu memiliki suhu hingga 200 derajat Celcius.

Black smokers adalah istilah untuk gelembung-gelembung gas hidrotermal yang keluar dari rekahan di dasar lautan. Gas tersebut muncul dari patahan yang menganga. Salah satu kluster baru ditemukan di daerah Mid-Atlantic Ridge, antara Greenland dan Norwegia. Kluster tersebut tercatat sebagai black smokers paling utara. Black smokers lain yang terdekat berjarak sekitar 200 kilometer.

Semburan gas panas di dasar lautan itu berhasil direkam kapal selam mini yang dapat dikendalikan dari jarak jauh. Tinggi semburan gas mencapai 12 meter sebelum menyatu dengan air laut yang sangat dingin. Para peneliti menyebutnya Istana Loki karena bentuknya mirip istana fantasi. Nama Loki diambil dari nama dewa penipu dalam mitos Norwegia.

Mineral-mineral sulfida yang terlarut saat cairan panas bertemu air dingin di dasar laut selama bertahun-tahun terkumpul di sekitar lubang. Volume endapan di sekitarnya mencapai ketinggian 90 meter dan menyebar dengan diameter 315 meter.

"Akumulasi di sekitar lubang terbaru ini adalah deposit terbesar di dasar laut," ujar Marvin Lilley, pakar kelautan dari Universitas Washington. Ia memperkirakan, lubang tersebut telah aktif sejak ribuan tahun.

Mineral-mineral di sekitar "cerobong asap" tersebut membentuk lingkungan yang hangat dan kaya mineral dibandingkan dengan sekitarnya. Pengamatan awal bahkan menunjukkan ekosistem di kawasan sekitarnya sangat beragam dan terdapat kehidupan mikroorganisme meski tidak terjangkau sinar matahari. Sejumlah ilmuwan berpendapat, lingkungan seperti inilah kemungkinan bibit kehidupan di Bumi pada masa lalu.
artikel ini dikutip dari "pondok-cerita.blogspot.com"